Liburanku ke Gunung Muria Kudus
Liburan semester lalu menjadi salah satu pengalaman paling berkesan bagiku. Saat itu, aku dan keluargaku memutuskan untuk berlibur ke Gunung Muria yang terletak di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Kami berangkat dari rumah di Demak pada pagi hari sekitar pukul enam. Udara masih sejuk dan matahari baru saja muncul di ufuk timur. Ayah mengemudikan mobil, sedangkan aku, ibu, dan adikku duduk di kursi belakang sambil menikmati suasana pagi.
Perjalanan dari Demak ke Kudus memakan waktu sekitar satu jam. Sepanjang perjalanan, kami melewati hamparan sawah hijau, sungai kecil, dan perkampungan yang tenang. Sesekali kami berhenti untuk membeli jajanan di pinggir jalan, seperti tahu bakso dan tempe mendoan yang masih hangat. Jalan menuju Gunung Muria mulai menanjak ketika kami memasuki daerah Colo, sebuah desa yang terkenal sebagai pintu masuk menuju puncak gunung.
Setelah sampai di area parkir Colo, kami beristirahat sejenak. Udara di sana terasa sangat sejuk dan segar, jauh berbeda dengan udara di Demak yang cenderung panas. Dari kejauhan, terlihat puncak Gunung Muria yang diselimuti kabut tipis. Kami pun bersiap-siap untuk naik ke atas. Karena tidak semua jalan bisa dilalui kendaraan, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Pendakian dimulai dengan melewati anak tangga yang cukup curam. Di sisi jalan banyak penjual makanan, minuman, dan oleh-oleh khas Gunung Muria, seperti kopi Muria, madu hutan, serta keripik tempe. Ibu membeli beberapa bungkus kopi untuk dijadikan oleh-oleh. Sementara itu, aku dan adikku lebih tertarik membeli es degan yang menyegarkan tenggorokan setelah berjalan jauh.
Semakin tinggi kami mendaki, pemandangannya semakin indah. Dari ketinggian, aku bisa melihat hamparan kota Kudus dan sekitarnya. Angin bertiup lembut membawa aroma khas pepohonan dan bunga liar. Kami juga melewati beberapa sumber air jernih yang konon berasal dari mata air pegunungan. Ayah sempat bercerita bahwa Gunung Muria memiliki nilai sejarah dan spiritual yang penting, karena di gunung ini terdapat Makam Sunan Muria, salah satu Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di Jawa.
Setelah sekitar satu jam berjalan, kami tiba di area makam. Banyak peziarah yang datang untuk berdoa. Suasana di sana sangat tenang dan khidmat. Kami ikut berdoa bersama, lalu beristirahat di pendopo sambil menikmati bekal nasi bungkus yang dibawa ibu dari rumah. Makan di alam terbuka dengan udara sejuk membuat rasanya jauh lebih nikmat.
Menjelang siang, kami memutuskan untuk turun kembali. Turunnya ternyata tidak kalah melelahkan, tetapi suasana gembira membuat kami tetap semangat. Sebelum pulang, kami mampir di pasar kecil untuk membeli oleh-oleh tambahan seperti tape ketan dan jenang Kudus.
Sesampainya di rumah di Demak, tubuh terasa lelah, tetapi hati sangat senang. Liburan ke Gunung Muria bukan hanya memberiku pengalaman menikmati keindahan alam, tetapi juga pelajaran berharga tentang sejarah dan kebersamaan keluarga. Aku berharap suatu hari nanti bisa kembali ke sana, mungkin bersama teman-teman sekolahku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar